Senin, 20 Mei 2013

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN APPENDICITIS

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN APPENDICITIS
PENGERTIAN
Apendiksitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang palingsering(Mansjoer,2000).
Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah abstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi(Wilson&Goldman,1989).
Apendiksitis merupakan penyakit prototip yang berlanjut melalui peradangan, obstruksi dan iskemia di dalam jangka waktu bervariasi (Sabiston,1995) .
Apendiksitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).
ETIOLOGI
§  Fekolit/massa fekal padat karena konsumsi diet rendah serat.
§  Tumor apendiks.
§  Cacing ascaris.
§  Erosi mukosa apendiks karena parasit E. Histolytica.
§  Hiperplasia jaringan limfe.
MANIFESTASI KLINIS
§  Sakit, kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah
§  Anoreksia
§  Mual dan Muntah,(tanda awal yang umum, kuramg umum pada anak yang lebih besar).
§  Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonotis.
§  Nyeri lepas.
§  Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali.
§  Konstipasi.
§  Diare.
§  Disuria.
§  Iritabilitas.
§  Gejala berkembang cepat, kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam setelah munculnya gejala pertama.
http://copyaskep.files.wordpress.com/2011/08/082211_1951_asuhankeper11.jpg?w=630
PENATALAKSANAAN APPENDICITIS
Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer, 2000 :
§  Sebelum operasi
§  Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi
§  Pemasangan kateter untuk control produksi urin.
§  Rehidrasi
§  Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena.
§  Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai.
§  Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.
§  Operasi
§  Apendiktomi.
§  Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas,maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika.
§  Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV,massanya mungkin mengecil,atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari. Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan.
§  Pasca operasi
§  Observasi TTV.
§  Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah.
§  Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.
§  Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama pasien dipuasakan.
§  Bila tindakan operasilebih besar, misalnya pada perforasi, puasa dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal.
§  Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak.
§  Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2×30 menit.
§  Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar.
§  Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif yang ditandai dengan :
§  Keadaan umum klien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi
§  Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tanda-tanda peritonitis
§  Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri.
Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien dipersiapkan, karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi .
Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai dengan :
§  Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit, suhu tubuh tidak tinggi lagi.
§  Pemeriksaan lokal abdomen tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan jelas dan nyeri tekan ringan.
§  Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal.

Tindakan yang dilakukan sebaiknya konservatif dengan pemberian antibiotik dan istirahat di tempat tidur. Tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut.Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau tanpa peritonitis umum.
PROSES KEPERAWATAN KLIEN APPENDICITIS
PENGKAJIAN
§  WawancaraDapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai :
§  Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas.
§  Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. kesehatan klien sekarang.
§  Diet,kebiasaan makan makanan rendah serat.
§  Kebiasaan eliminasi.
§  Pemeriksaan Fisik
§  Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
§  Sirkulasi : Takikardia.
§  Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
§  Aktivitas/istirahat : Malaise.
§  Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
§  Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
§  Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
§  Demam lebih dari 38oC.
§  Data psikologis klien nampak gelisah.
§  Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
§  Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
§  Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.
§  Pemeriksaan Penunjang
§  Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah. Gambaran perselubungan mungkin terlihat “ileal atau caecal ileus” (gambaran garis permukaan cairan udara di sekum atau ileum).
§  Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat.
§  Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
§  Peningkatan leukosit, neutrofilia, tanpa eosinofil.
§  Pada enema barium apendiks tidak terisi.
§  Ultrasound: fekalit nonkalsifikasi, apendiks nonperforasi, abses apendiks.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan data-data hasil pengkajian, diagnose keperawatan yang biasanya muncul pada klien dengan appendicitis adalah :
1.     Nyeri berhubungan dengan terputusnya continuitas jaringan/insisi bedah ; Trauma jaringan ; Dstensi jaringan usus oleh inflamasi
2.     Aktual / Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah ; Kehilangan volume cairan secara aktif ; Kegagalan mekanisme pengaturan ; Pembatasan pasca operasi (puasa)
3.     Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan Ingesti ; Digesti ; Absorbsi
4.     Cemas berhubungan dengan Perubahan status kesehatan ; Kemungkinan dilakukannya operasi
5.     Resiko infeksi berhubungan dengan Tidak adekuatnya pertahanan tubuh ; Prosedur invasive (insisi bedah)
6.     Kurang pengetahuan berhubungan dengan Kurang terpaparnya informasi ; Keterbatasan kognitif
INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1.     Mengurangi nyeri
§  Lakukan pengkajian nyeri, secara komprhensif meliputi lokasi, keparahan.
§  Observasi ketidaknyamanan non verbal
§  Gunakan pendekatan yang positif terhadap pasien, hadir dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya dengan cara: masase, perubahan posisi, berikan perawatan yang tidak terburu-buru.
§  Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan.
§  Anjurkan pasien untuk istirahat dan menggunakan tenkik relaksai saat nyeri.
§  Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic.
2.     Mempertahankan keseimbangan cairan
§  Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
§  Monitor vital sign dan status hidrasi.
§  Monitor status nutrisi
§  Awasi nilai laboratorium, seperti Hb/Ht, Na+ albumin dan waktu pembekuan.
§  Kolaborasikan pemberian cairan intravena sesuai terapi.
§  Atur kemungkinan transfusi darah.
3.     Memenuhi kebutuhan nutrisi
§  Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
§  Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan.
§  Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya.
§  Minimalkan faktor yang dapat menimbulkan mual dan muntah.
§  pertahankan higiene mulut sebelum dan sesudah makan.
4.     Mengurangi kecemasan
§  Memberikan informasi kepada klien mengenai prosedur dan tujuan dilakukan tindakan pembedahan
§  Brbincang dengan klien mengenai apa yang akan dikerjakan
§  Menggunakan pendekatan yang tenang untuk meyakinkan klien
§  Memotivasi keluarga untuk selalu menemani klien
5.     Menghindari infeksi
§  Melakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptic
§  Mengobservasi tanda-tanda vital dan tanda-tanda infeksi
§  Memberikan antibiotic sesuai indikasi
6.     Memberikan pendidikan kesehatan
§  Memberikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya
§  Memberikan informasi kepada klien dan keluarga tentang tindakan dan perkembangan kondisi klien
§   
EVALUASI
1.     Melaporkan berkurangnya nyeri
§  Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
§  Klien tampak rileks, mampu tidur/istirahat
2.     Cairan tubuh seimbang
§  Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal.
§  Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.
§  Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas, turgor kulit, membran mukosa lembab.
§  Tidak ada rasa haus yang berlebihan
3.     Nutrisi terpenuhi
§  Mempertahankan berat badan.
§  Toleransi terhadap diet yang dianjurkan.
§  Menunjukan tingkat keadekuatan tingkat energi.
§  Turgor kulit baik.
4.     Kecemasan berkurang
§  Klien tampak tenang
§  Klien mengatakan mengerti tentang penyakitnya dan prosedur tindakan yang akan dilakukan
5.     Menunjukan tidak ada tanda infeksi
§  Luka sembuh tanpa tanda infeksi
§  Cairan yang keluar dari luka tidak purulen
6.     Menyatakan pemahaman tentang penyakit dan prosedur tindakan yang akan dilakukan

DAFTAR PUSTAKA
Marylin E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Edisi 3. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta.
Mansjoer. A. Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius
Johnson, Marion,dkk. Nursing Outcome Classification (NOC). St. Louis, Missouri: Mosby Yearbook,Inc.
Mc. Closkey, Joanne. 1996. Nursing Intervention Classsification (NIC). St. Louis, Missouri: Mosby Yearbook,Inc.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar